Tampilkan postingan dengan label #puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #puisi. Tampilkan semua postingan

2018/10/29

Selamat Ulang Tahun

Bahagiakah kau hari ini?
Sudah banyakkah mereka yang mendoakanmu hari ini?
Aku tak ingin mengucapkannya yang pertama,
aku ingin mengucapkannya saat tak ada lagi yang mengingatnya.

2018/07/19

Tubuh yang Salah

Pulanglah, Puan. Pulanglah.
Karena siang sudah digugurkan malam
gelapnya tersaji pekat di atap-atap yang kutinggali
serupa ingatan tentang wajahmu yang masih kulipat rapih.

2017/08/07

Rindu yang Tabah

Aku tak tahu-menahu tentang rindu ini
yang tiba-tiba datang, mengajakku pulang ke arah terbitnya matahari
tujuannya—kau—pemilik hati yang belum juga memberi izin

2017/05/03

Kepergian yang Direstui Takdir

Ingatkah sore tadi
kita melewatkan senyum di bibir masing-masing?
cinta telah membuat kita lupa
pertemuan ialah perintah takdir
sebelum kita dipaksa memeluk perpisahan

2015/12/13

Sebentuk Rindu untuk Kekasih

detik tak pernah melangkah mundur
ia santun menunduk pada takdir yang menuntun
meski sesekali puisiku masih mengingatmu
jarum jam ialah pengingat ulung
perihal melupakan

2015/11/17

Kau dan Aku Sama Saja

Awalnya kau dan aku duduk berjauhan--tak saling menyapa
sebelum menyadari kita dipeluk sebuah kebetulan
aku tak bisa menjelaskan, bibir atau perilaku
bahkan degup yang sesekali membuncah ketika melihatmu tersenyum

2015/09/18

Bahagia yang tak lagi Piatu

caramu mencintai pantas kukagumi
sentuhan manis dari jari kurasa
mengisi perlahan ruang-ruang rindu yang kautinggalkan
bersama sisa degup yang masih bertahan

2015/07/27

Kepada Perempuan Pemilik Malam

waktu acap kali berpegang erat pada ingatan
gerakan memutar jarum jam
kerap mengajak pikiran menjelajah masa lalu
pada masa dimana tangismu
menjadi perihal yang takingin lagi kuingat

2015/02/13

Pergi yang Direstui Pagi

Hujan sudah mengering
sawah-ladang digenangi kemarau
bangkai-bangkai padi dibakar amarah
hajatan burung-burung gereja telah usai

2014/12/17

Dengan Izinmu Aku Memelukmu

Di siang yang panas aku melihatmu menggigil
bahagiamu larut digenangi kesedihan
Masih tampak sebuah lebam di pipi--sisa pertengkaran semalam
coba kau samarkan

Dulu, aku pernah menanamkan luka di dadamu
lalu tumbuh
hingga mengubur kata maaf yang keluar dari bibirku
Dengan terpaksa, kata ikhlas kutulis
meski tintanya harus dari air mataku
--pun membuatkan jalan kepergian untukmu

Kini aku datang sebagai penggalan masa lalu
yang masih menganggapmu kesalahan terindah
kembali membawa dekap; tempat di mana
pernah kau baringkan segala resah

Jika kau izinkan sekali lagi, dinda
aku masih ingin menempatkanmu dalam pelukan
mengecup keningmu saat fajar
pun mengaitkan jemarimu ketika berjalan
Karena di dadaku
masih ada rindu yang mendoakanmu

2014/09/27

Siapa Aku?

Tak ada lagi luka, tak ada lagi duka
yang tersisa ialah bahagia yang ada di depan sana

Terkadang cinta memang lucu
Kau memberiku penawar luka, membuatnya sembuh
sebelum kau lukai lagi aku dengan tangis yang membuatku jatuh
Dosa yang tertinggal di pikiran kita masing-masing bersuara
menggumamkan kesah yang tak terucap

Yang kutahu; aku menjatuhkan cinta yang hangat pada genggamanmu
tapi sepertinya, cinta yang kaujatuhkan telah digigilkan cemburu

Engkau pergi sebagai ribuan tanya
dan aku terlalu sibuk mencari jawaban
hingga aku lupa cara berjalan

"Lalu bagaimana aku bisa melupakanmu?"
pikiranku berputar memaksakan jawaban
sebelum akhirnya kuputuskan
: untuk membuatkan akrostik dari namamu
sebagai hadiah perpisahan

Sayangnya, aku tak ingin tergesa--aku masih ingin menikmati sakitnya mengingatmu
Puisi pertama selesai, pun kedua, ketiga, keempat,
hingga aku lupa, benar-benar lupa

"Siapa aku?"

Entah, mungkin melupakanmu sama saja membunuhku.

Surabaya, 2014

2014/09/15

Pada Satu Senja

Semalam, satu pesan singkat kuterima; "Aku ingin bertemu." Dan kau menentukan tempat pertemuan kita sebagai jembatan perpisahan. Beranda kafe ini semakin terang oleh senja yang sebentar lagi pergi. Sesekali menyilaukan ketika cahayanya menyelinap saat pintunya terbuka. Aku yang datang lebih dulu, memilih duduk di tempat kesukaanmu--menghadap ke Barat. "Aku suka melihat matahari datang, seperti manusia yang harus melangkah ketika memutuskan untuk bangun dan berdiri dari tidur di malam sebelumnya." alasan yang kau ungkap.

Acap kali kuselingkuhi buku yang kuletakkan di pangkuan dan mengarahkan pandangan ketika pintu kafe terbuka, berharap kau segera datang lalu mengakhiri keresahanku. Tepat pukul lima kau datang dengan pakaian hadiah ulang tahun dariku. "Kau cantik sekali." kataku mengagumi. Sebuah senyum kau lempar padaku sebagai balasan.

Sore ini, kau datang sebagai masa lalu, kita duduk saling berhadapan--tak lagi berdampingan, di meja yang sama ketika kita sepakat untuk saling menjatuhkan hati. Untuk menyamarkan pahitnya perpisahan kau memesan cokelat manis, kau letakkan di sebelah cangkir kopi pahit milikku, yang kuanggap sebagai perantara melupakan manisnya pertemuan.

Hampir satu putaran penuh jarum jam panjang di dinding itu bergerak, kau tetap saja diam memandangi senja yang berpamitan pada dunia. Pun aku yang tak berusaha untuk memulai bicara, larut dalam indahnya perpisahan. "Maaf. Maaf aku harus meninggalkanmu seperti itu." kalimat yang keluar dari bibirmu, sekaligus membangunkan lamunanku--membawa ingatanku pada pertemuan terakhir kita satu bulan yang lalu. "Selamat tinggal." ialah kata-kata terakhir yang kudengar darimu sebelum kau membanting pintu di depanku.

Ketika senja sudah sepenuhnya berpamitan, aku berdiri, kukatakan padanya: "Aku pergi. Untuk kita: mungkin Tuhan menuliskan pertemuan untuk dipisahkan. Selamat tinggal." Sedangkan dia tetap diam, melihat perpisahan; bukan dengan senja, tapi aku.

Ternyata benar yang kubayangkan, cinta adalah guru yang hebat; bukan selalu tentang bahagia, cinta juga mengajarkan luka. Semoga pertemuan ini menjadi pertemuan terakhirku dengan luka--oleh seorang yang pernah kujadikan kepulangan terakhir.

Selamat tinggal.

2014/06/24

Maaf, Perempuanku

Perempuan, sore ini aku sedang memandangi langit, sambil berharap senja tidak membawaku kembali pada luka. Aku ingat apa yang kau katakan malam itu; “Sayang, pelukmu terlalu menenangkan, aku takut tak bisa melepasmu.” Kalimat yang membuat hati semakin menumpang tindih dengan logika.

Empat tahun lalu kau pergi, meninggalkanku tanpa permisi. Melangkahkan tujuan ke pelaminan yang tampaknya indah, sebelum durinya tak jarang melukai.

Dan sore itu kau datang dengan tangis yang mengisak, lirih suaramu hampir dikalahkan gesekan daun yang berteriak. Pun sembab di mata membuatku tak bisa menolak untuk memberimu pelukan. Sedang di tempat yang lain, kekasihku sedang menanti—aku; yang menjanjikan untuk bermesraan malam ini. Karena malam ini ialah tepat satu tahun pertunanganku dengan perempuan yang kelak kupanggil istri.

Kami terlibat dalam percintaan hebat malam itu. Dalam lamunan terbesit tanya “Apa yang harus kukatakan padanya? Dia pasti marah sekali” sambil kumembelai rambut seorang perempuan yang tertidur di dadaku tanpa mengenakan apa-apa.

Menjelang siang di keesokan harinya kau tersadar dari lelap, sembab di mata tak lagi tampak. Jarum jam yang pendek sudah sampai di angka 9, dan kau bergegas—sekali lagi akan meninggalkanku di kamar ini di ujung lorong hotel ini.

“Pergilah! Dadaku bukan sekadar tempat persinggahan—tempat melupakan duka. Sebelum akhirnya kau kembali pada pelukannya.” kataku.

“Selamat tinggal.” kata-kata yang terakhir kudengar, sebelum kau membanting pintu di depanku.

2014/06/06

Aku; Membencimu Di Antara Malam Dan Larut

Aku Membencimu di Antara Malam Dan Larut

Di antara malam dan larut
sungguh aku ingin mengajakmu bercinta.
Mengulang kebiasaan lama
bertukar cerita atau kecup
Lidah kita bertautan, tubuh kita menyatu
membuat iri gigil dan angin yang hendak bersetubuh

Tapi dulu...
ketika aku membencimu
Membenci dengan cinta yang terlalu
menjadikanmu satu di antara seribu.

Jika kau tahu, bedak dan gincumu masih kusimpan
dalam laci—tempat kuletakkan semua kenang.
Anggap saja aku masih menyimpan harap
kau datang membawa rasa
—meninggalkan ragu di tempat yang paling gelap
yang tak pernah lagi kausentuh.

Di antara malam dan larut, aku membencimu

Aku membencimu karena aku tak bisa membencimu.



2014/05/31

Tak Ada Lagi Pungguk

Selamat tinggal, dinda
Kucukupkan penantianku
tak lagi aku inginkan peran sebagai pungguk
Menunggumu jatuh lagi ke dalam pelukan
serupa menanti hujan saat matahari sedang berkuasa
bukan tak bisa, hanya saja aku lelah.

Semua tentang kita, sudah dituliskan
pun tentang adanya kau
yang tak lagi menginginkan aku
mengetuk, dan mengukir lagi nama di kisah hidupmu.
Kukatakan padamu:
"Aku, adalah laki-laki beruntung,
yang pernah kau anggap puisi di hidupmu".

Lama aku menanam ketabahan
derai tangis—deras menguras sisa air mata
Cukupku telah menguburkan rindu bersama kenang
memugar dinding bernama kesabaran
dan menghapus namamu dari labirin ingatan.

Perlahan menata kembali hati yang rusak
oleh cemburu yang sering mengoyak
—merapikan seperti saat pertama kali kau datang
Membangun kembali istana tanpa nama
beri warna lain dari kisah di depan sana.

Selamat tinggal, dinda
Ketahuilah, ada debar saat kau menyapa
debar yang membuatku bisa
mencintai satu perempuan saja
dan sanggup tak meredup
dalam penantian lebih dari seribu malam.

2014/05/17

Cemburu

Dalam angkuhnya gigil malam,
sungguh aku ingin mengajakmu berjalan.
Menyusuri semua kenang
mencoba membuka telaga ingatan
tentangmu, aku, dan kita.
Kuakui aku pernah cemburu,
cemburu yang makin memburu
bahkan sanggup membunuh
Cemburuku; bukan seperti awan
menangisi kepergian hujan ke pelukan tanah,
meski akhirnya akan kembali padanya.
Tidak, cemburuku bukan seperti itu.
Aku ingin memelukmu erat, selama aku bisa
—dan selama kau ingin.

2014/04/21

Aku (Pernah) Hidup

Waktu tak berdetak sesuai inginku
Uraikan lagi kisah yang telah lalu.
Luka yang (pernah) kuberi padamu, membayangi setiap langkah
Aku, bahkan tak lagi mengenal hatiku.
Namamu (pernah) ada—selalu ada dalam doa
—Wajahmu (pernah) selalu mengunjungi mimpi.
Adalah egoku, yang membuatmu tak lagi di sisi
Hempaskan segala angan yang telah nyata—dalam dirimu, satu
Yang terbaik, yang (pernah) kumiliki
Untaian kata berwujud janji (pernah) ada
Taburkan benih-benih bahagia dalam cerita
Rasa ini masih ada,
Inginkanmu tak (pernah) pergi dariku
Otakku kini tak lagi bisa berkata manis pada hatiku
Kepala di tubuh ini (pernah) hanya berisi namamu
Tuliskan mimpi dari masa yang telah lalu.
Aku yang (pernah) menganggapmu serupa candu
Virus yang tak (pernah) ingin kuhilangkan.
Ijinkan aku, mengulang kembali waktu—saat bersamamu
Agar aku bisa—agar aku bisa menghapus kata (pernah), dari kisah yang (pernah) kutuliskan.

Karena aku, (pernah) sangat mencintaimu.