Sudah banyakkah mereka yang mendoakanmu hari ini?
Aku tak ingin mengucapkannya yang pertama,
aku ingin mengucapkannya saat tak ada lagi yang mengingatnya.
Semalam, satu pesan singkat kuterima; "Aku ingin bertemu." Dan kau menentukan tempat pertemuan kita sebagai jembatan perpisahan. Beranda kafe ini semakin terang oleh senja yang sebentar lagi pergi. Sesekali menyilaukan ketika cahayanya menyelinap saat pintunya terbuka. Aku yang datang lebih dulu, memilih duduk di tempat kesukaanmu--menghadap ke Barat. "Aku suka melihat matahari datang, seperti manusia yang harus melangkah ketika memutuskan untuk bangun dan berdiri dari tidur di malam sebelumnya." alasan yang kau ungkap.
Acap kali kuselingkuhi buku yang kuletakkan di pangkuan dan mengarahkan pandangan ketika pintu kafe terbuka, berharap kau segera datang lalu mengakhiri keresahanku. Tepat pukul lima kau datang dengan pakaian hadiah ulang tahun dariku. "Kau cantik sekali." kataku mengagumi. Sebuah senyum kau lempar padaku sebagai balasan.
Sore ini, kau datang sebagai masa lalu, kita duduk saling berhadapan--tak lagi berdampingan, di meja yang sama ketika kita sepakat untuk saling menjatuhkan hati. Untuk menyamarkan pahitnya perpisahan kau memesan cokelat manis, kau letakkan di sebelah cangkir kopi pahit milikku, yang kuanggap sebagai perantara melupakan manisnya pertemuan.
Hampir satu putaran penuh jarum jam panjang di dinding itu bergerak, kau tetap saja diam memandangi senja yang berpamitan pada dunia. Pun aku yang tak berusaha untuk memulai bicara, larut dalam indahnya perpisahan. "Maaf. Maaf aku harus meninggalkanmu seperti itu." kalimat yang keluar dari bibirmu, sekaligus membangunkan lamunanku--membawa ingatanku pada pertemuan terakhir kita satu bulan yang lalu. "Selamat tinggal." ialah kata-kata terakhir yang kudengar darimu sebelum kau membanting pintu di depanku.
Ketika senja sudah sepenuhnya berpamitan, aku berdiri, kukatakan padanya: "Aku pergi. Untuk kita: mungkin Tuhan menuliskan pertemuan untuk dipisahkan. Selamat tinggal." Sedangkan dia tetap diam, melihat perpisahan; bukan dengan senja, tapi aku.
Ternyata benar yang kubayangkan, cinta adalah guru yang hebat; bukan selalu tentang bahagia, cinta juga mengajarkan luka. Semoga pertemuan ini menjadi pertemuan terakhirku dengan luka--oleh seorang yang pernah kujadikan kepulangan terakhir.
Selamat tinggal.
Perempuan, sore ini aku sedang memandangi langit, sambil berharap senja tidak membawaku kembali pada luka. Aku ingat apa yang kau katakan malam itu; “Sayang, pelukmu terlalu menenangkan, aku takut tak bisa melepasmu.” Kalimat yang membuat hati semakin menumpang tindih dengan logika.
Empat tahun lalu kau pergi, meninggalkanku tanpa permisi. Melangkahkan tujuan ke pelaminan yang tampaknya indah, sebelum durinya tak jarang melukai.
Dan sore itu kau datang dengan tangis yang mengisak, lirih suaramu hampir dikalahkan gesekan daun yang berteriak. Pun sembab di mata membuatku tak bisa menolak untuk memberimu pelukan. Sedang di tempat yang lain, kekasihku sedang menanti—aku; yang menjanjikan untuk bermesraan malam ini. Karena malam ini ialah tepat satu tahun pertunanganku dengan perempuan yang kelak kupanggil istri.
Kami terlibat dalam percintaan hebat malam itu. Dalam lamunan terbesit tanya “Apa yang harus kukatakan padanya? Dia pasti marah sekali” sambil kumembelai rambut seorang perempuan yang tertidur di dadaku tanpa mengenakan apa-apa.
Menjelang siang di keesokan harinya kau tersadar dari lelap, sembab di mata tak lagi tampak. Jarum jam yang pendek sudah sampai di angka 9, dan kau bergegas—sekali lagi akan meninggalkanku di kamar ini di ujung lorong hotel ini.
“Pergilah! Dadaku bukan sekadar tempat persinggahan—tempat melupakan duka. Sebelum akhirnya kau kembali pada pelukannya.” kataku.
“Selamat tinggal.” kata-kata yang terakhir kudengar, sebelum kau membanting pintu di depanku.