2013/11/12

Simpan, Simpanlah!

Senja sore ini,
ombak bergelayut manja pada pantai,
terlihat,
pasir putih ini enggan melepasnya pergi.
Rintik gerimis
perlahan penuhi angan,
membawa kembali semua kenangan,
tentangku, tentangmu, tentang kita.

Sesaat kulihat langit,
rintik tak lagi ada,
angin tiupkan kuasanya,
perintahkan awan itu pergi.
Digantikan temaram cahaya bulan,
menampakkan bahagianya,
terlihat dari lengkung di bibirmu.

Senyum itu,
sekejap saja,
bisa hentikan jantungku dari detak.
Aku ingin melihat senyum itu.
Sejak si jantan bersahutan membuka hari,
hingga mata memeluk mimpi dalam pejam,
mengisi ruang di sisa usiaku.

Tak peduli
meski aku harus menunggu.
Meski aku,
harus memenjarakan egoku,
membiarkannya tersiksa
--menanti dalam ketidakpastian.
Lalu menguburnya hidup-hidup,
hingga mati.

Kenangku,
201 hari kita ada,
dan bukan kau atau aku.
Tak ada dekap,
hanya kata yang saling bertatap.
Tak pula ada peluk,
tumbuhkan rindu agar tak meringkuk.

Tapi,
tak sekalipun aku sesali,
hatiku pernah jatuh
ke genggamanmu saat kau sentuh.

Simpan,
simpanlah hatiku sampai kau bosan!
Aku tak lagi menginginkan,
jatuh ke genggaman tangan yang lain.