Dear you,
Sesuai janjiku; aku akan memberimu surat lagi, lagi, dan lagi.
Dan ini adalah surat keduaku untukmu.
2015/02/01
2015/01/31
Kepada Perempuan Pecinta Langit
Sore ini bibirku kembali dibuat tersenyum, mengingat perbincangan kita beberapa malam terakhir yang kadang tak masuk akal--terlebih tentang hati. Yang sama-sama kita tahu bahwa berbicara tentang hati memang jarang melibatkan logika.
2014/12/17
Dengan Izinmu Aku Memelukmu
Di siang yang panas aku melihatmu menggigil
bahagiamu larut digenangi kesedihan
Masih tampak sebuah lebam di pipi--sisa pertengkaran semalam
coba kau samarkan
Dulu, aku pernah menanamkan luka di dadamu
lalu tumbuh
hingga mengubur kata maaf yang keluar dari bibirku
Dengan terpaksa, kata ikhlas kutulis
meski tintanya harus dari air mataku
--pun membuatkan jalan kepergian untukmu
Kini aku datang sebagai penggalan masa lalu
yang masih menganggapmu kesalahan terindah
kembali membawa dekap; tempat di mana
pernah kau baringkan segala resah
Jika kau izinkan sekali lagi, dinda
aku masih ingin menempatkanmu dalam pelukan
mengecup keningmu saat fajar
pun mengaitkan jemarimu ketika berjalan
Karena di dadaku
masih ada rindu yang mendoakanmu
bahagiamu larut digenangi kesedihan
Masih tampak sebuah lebam di pipi--sisa pertengkaran semalam
coba kau samarkan
Dulu, aku pernah menanamkan luka di dadamu
lalu tumbuh
hingga mengubur kata maaf yang keluar dari bibirku
Dengan terpaksa, kata ikhlas kutulis
meski tintanya harus dari air mataku
--pun membuatkan jalan kepergian untukmu
Kini aku datang sebagai penggalan masa lalu
yang masih menganggapmu kesalahan terindah
kembali membawa dekap; tempat di mana
pernah kau baringkan segala resah
Jika kau izinkan sekali lagi, dinda
aku masih ingin menempatkanmu dalam pelukan
mengecup keningmu saat fajar
pun mengaitkan jemarimu ketika berjalan
Karena di dadaku
masih ada rindu yang mendoakanmu
2014/12/03
Pada Malam yang Menggigilkan Kenang
Malam ini aku terbangun dengan napas tersengal--dibangunkan oleh mimpi yang dipenggal kesunyian. Seekor kunang-kunang terbang mendekat, membahasakan kata sesal yang terlintas di pikiranku. Malam ini bulan sudah melewati purnama kedua, sejak pertama kali aku meninggalkan ruangan ini. "Aku sengaja tak mengubah apapun di ruang ini, agar kelak ketika kau kembali, kau tak pernah merasa asing." katamu.
2014/10/30
Selamat Ulang Tahun, Ulan
Dua puluh sembilan Oktober adalah hari ketiga ratus dua tahun ini--mengulang tanggal di mana kau mulai diizinkan untuk menikmati dunia berpuluh tahun yang lalu.
Kuakui aku sengaja tak memberikan ucapan ulang tahun tepat pukul dua belas tadi malam, aku memilih untuk memberimu tulisanku sebagai hadiah ulang tahun mendekati pergantian hari. Aku ingin menjadi yang terakhir memberimu ucapan, saat tak ada lagi yang mengingatnya. Karena aku tak bisa--tak terbiasa memberi kejutan ulang tahun. Pun malam ini hanya bisa memberimu doa, sambil berdoa Tuhan akan mengabulkannya untukmu.
Tak ada kado atau hadiah berpita warna ungu kesukaanmu. Tak juga kue tart dengan lilin angka penanda usia, pun dengan bunga yang kukirim untukmu. Namun semoga tak mengurangi kebahagiaanmu hari ini. Satu hal yang kupelajari dari teman-teman kota jancuk; mereka tak pernah lupa untuk mengingatkan untuk bahagia--juga jatuh cinta. Karena itu, berbahagialah! Jatuh cintalah!
Aku tahu bagimu; usia bukan hanya perihal angka dan kerut di wajah, tapi usia adalah tentang tanggung jawab yang tak pernah usai.
Harapanku; kau tak menyerah menghadapi tantangan dunia. Tetaplah tersenyum, meskipun tantangan dan tanggung jawab terkadang membuat lelah.
Selamat ulang tahun Ulan Octavia.
Salam dan peluk terhangat dari Surabaya.
Masni Metha
Langganan:
Postingan (Atom)