2014/07/06

Selamat Ulang Tahun Pernikahan, Sahabat.

Pernikahan.
Hmm, tak banyak yang kutahu tentang apa itu pernikahan. Yang kutahu pernikahan itu menyatukan dua keluarga, bukan dua kepala. Karena di dalam dua kepala itu tersimpan masing-masing satu keluarga. Bukan lagi persoalan aku atau kamu tapi kita, terlebih yang melibatkan keduanya. Mungkin itu yang bisa kugambarkan tentang pernikahan, jika aku melihat--berkaca pada bapak dan ibuku yang usia pernikahannya sudah sampai di usia 36 tahun pada 22 Nopember 2014 besok.

Dan hari ini aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun pernikahan pada seorang sahabat--Penagenic. Selamat Ulang Tahun Pernikahan yang ke-8, Maspen dan MbakNyit.

maspen

Aku ingat; Sabtu, 29 Juni 2013, di sebuah acara bernama "Malam Puisi Surabaya; Surabaya Romantis" kita berkenalan. Ya, baru setahun, tapi aku seperti sudah lama mengenalmu. Begitu banyak hal yang kau bagikan padaku, entah kisah tentang masa lajangmu, pun tentang nilai-nilai yang biasa kau petik dari pernikahanmu dengan seorang wanita yang biasa kau panggil "mbak istri" (dan aku sangat berterimakasih untuk itu, mas. Semoga bisa menjadi bekal untukku kelak. Aamiin). Dan mengenai pernikahan, aku ingat benar kata-katamu, "Pernikahan adalah suatu yang suci--sakral, karena disaksikan oleh 7 malaikat di sekitar kita saat kita mengucap Ijab Kabul". Itu bisa menjadi pesan untukku agar tidak menganggap pernikahan itu sebuah permainan.

Ah, jika mendengar cerita masa mudamu. Meskipun aku bukan Ki Joko Bodo, aku bisa tahu bahwa mbak istri adalah orang hebat; seorang wanita yang bisa menaklukan hati seorang Penagenic, seorang yang bisa membuat seorang Penagenic selalu menyebut namanya ketika berbicara tentang kebahagiaan. Juga hadirnya bidadari kecil bernama Ayin, yang selalu mengingatkanmu untuk tak pernah berhenti melakukan yang terbaik. Dan dari caramu memperlakukanku (dan keluarga Kota Jancuk) pun aku tahu bahwa seorang Penagenic adalah seorang suami dan ayah yang baik--yang selalu menginginkan yang terbaik untuk keluarganya.

140705-130316

Sekali lagi "Selamat Ulang Tahun Pernikahan". Doa terbaikku selalu untuk kebahagiaan kalian, sekarang dan seterusnya. Pelukan dari jenis terhangat untuk kalian.



Salam

Masni Metha

PS: Sampaikan kecup terhangatku pada Ayin; bidadari kecil di tengah-tengah kalian.

2014/06/24

Maaf, Perempuanku

Perempuan, sore ini aku sedang memandangi langit, sambil berharap senja tidak membawaku kembali pada luka. Aku ingat apa yang kau katakan malam itu; “Sayang, pelukmu terlalu menenangkan, aku takut tak bisa melepasmu.” Kalimat yang membuat hati semakin menumpang tindih dengan logika.

Empat tahun lalu kau pergi, meninggalkanku tanpa permisi. Melangkahkan tujuan ke pelaminan yang tampaknya indah, sebelum durinya tak jarang melukai.

Dan sore itu kau datang dengan tangis yang mengisak, lirih suaramu hampir dikalahkan gesekan daun yang berteriak. Pun sembab di mata membuatku tak bisa menolak untuk memberimu pelukan. Sedang di tempat yang lain, kekasihku sedang menanti—aku; yang menjanjikan untuk bermesraan malam ini. Karena malam ini ialah tepat satu tahun pertunanganku dengan perempuan yang kelak kupanggil istri.

Kami terlibat dalam percintaan hebat malam itu. Dalam lamunan terbesit tanya “Apa yang harus kukatakan padanya? Dia pasti marah sekali” sambil kumembelai rambut seorang perempuan yang tertidur di dadaku tanpa mengenakan apa-apa.

Menjelang siang di keesokan harinya kau tersadar dari lelap, sembab di mata tak lagi tampak. Jarum jam yang pendek sudah sampai di angka 9, dan kau bergegas—sekali lagi akan meninggalkanku di kamar ini di ujung lorong hotel ini.

“Pergilah! Dadaku bukan sekadar tempat persinggahan—tempat melupakan duka. Sebelum akhirnya kau kembali pada pelukannya.” kataku.

“Selamat tinggal.” kata-kata yang terakhir kudengar, sebelum kau membanting pintu di depanku.

2014/06/06

Aku; Membencimu Di Antara Malam Dan Larut

Aku Membencimu di Antara Malam Dan Larut

Di antara malam dan larut
sungguh aku ingin mengajakmu bercinta.
Mengulang kebiasaan lama
bertukar cerita atau kecup
Lidah kita bertautan, tubuh kita menyatu
membuat iri gigil dan angin yang hendak bersetubuh

Tapi dulu...
ketika aku membencimu
Membenci dengan cinta yang terlalu
menjadikanmu satu di antara seribu.

Jika kau tahu, bedak dan gincumu masih kusimpan
dalam laci—tempat kuletakkan semua kenang.
Anggap saja aku masih menyimpan harap
kau datang membawa rasa
—meninggalkan ragu di tempat yang paling gelap
yang tak pernah lagi kausentuh.

Di antara malam dan larut, aku membencimu

Aku membencimu karena aku tak bisa membencimu.



2014/05/31

Tak Ada Lagi Pungguk

Selamat tinggal, dinda
Kucukupkan penantianku
tak lagi aku inginkan peran sebagai pungguk
Menunggumu jatuh lagi ke dalam pelukan
serupa menanti hujan saat matahari sedang berkuasa
bukan tak bisa, hanya saja aku lelah.

Semua tentang kita, sudah dituliskan
pun tentang adanya kau
yang tak lagi menginginkan aku
mengetuk, dan mengukir lagi nama di kisah hidupmu.
Kukatakan padamu:
"Aku, adalah laki-laki beruntung,
yang pernah kau anggap puisi di hidupmu".

Lama aku menanam ketabahan
derai tangis—deras menguras sisa air mata
Cukupku telah menguburkan rindu bersama kenang
memugar dinding bernama kesabaran
dan menghapus namamu dari labirin ingatan.

Perlahan menata kembali hati yang rusak
oleh cemburu yang sering mengoyak
—merapikan seperti saat pertama kali kau datang
Membangun kembali istana tanpa nama
beri warna lain dari kisah di depan sana.

Selamat tinggal, dinda
Ketahuilah, ada debar saat kau menyapa
debar yang membuatku bisa
mencintai satu perempuan saja
dan sanggup tak meredup
dalam penantian lebih dari seribu malam.

2014/05/17

Cemburu

Dalam angkuhnya gigil malam,
sungguh aku ingin mengajakmu berjalan.
Menyusuri semua kenang
mencoba membuka telaga ingatan
tentangmu, aku, dan kita.
Kuakui aku pernah cemburu,
cemburu yang makin memburu
bahkan sanggup membunuh
Cemburuku; bukan seperti awan
menangisi kepergian hujan ke pelukan tanah,
meski akhirnya akan kembali padanya.
Tidak, cemburuku bukan seperti itu.
Aku ingin memelukmu erat, selama aku bisa
—dan selama kau ingin.